Selasa, 08 Desember 2009

Masjid Lautze Simbol Kebudayaan Islam dan Tionghoa


Masjid Karim Oei atau lebih dikenal sebagai Masjid Lautze, yang terletak di Jl Lautze Raya, Pasarbaru, Jakarta Pusat nampaknya menjadi salah satu simbol sejarah bagi warga Tionghoa muslim di Jakarta. Setidaknya masjid ini telah menyimpan sejarah dua kebudayaan yang berbeda, yakni kebudayaan Islam (pribumi) dan kebudayaan Tionghoa yang hidup berdampingan sejak puluhan tahun silam.

Berbeda dengan masjid pada umumnya, Masjid Lautze terbangun kental dengan nuansa oriental. Tak ada kubah di masjid ini. Bangunannya pun didominasi warna merah yang dikenal sebagai warna khas masyarakat Tionghoa. Bahkan bentuk fisik bangunannya dibuat khas budaya Tionghoa, dengan harapan dapat menarik perhatian warga China yang ingin belajar Agama Islam di masjid tersebut.

Jika memasuki Masjid Lautze, kita tak menemukan suasana masjid-masjid yang ada pada umumnya. Bentuk bangunannya pun lebih mirip sebuah ruko atau sebuah kantor. Warna merah hati mendominasi seluruh pintu depan masjid. Begitu pula ketika memasuki ruangan, warna merah dan kuning keemasan mendominasi seluruh sudut ruangan yang ada di dalam masjid. Jika diperhatikan masjid Lautze malah lebih mirip bangunan klenteng.

Bangunan ini terdiri dari empat lantai, masing-masing lantai memiliki ruangan yang berbeda. Pada lantai 1 dan 2 dikhususkan sebagai masjid atau ruang tempat ibadah, lantai 3 sebagai ruang sekretariat masjid, dan lantai 4 sebagai aula. Yang harus diingat adalah, jangan membayangkan kalau Masjid Lautze ini buka 24 jam seperti masjid pada umumnya. Karena setiap hari Sabtu dan Minggu, pukul 07.00 ke atas masjid ini tutup.

“Yang membuat unik masjid ini dibanding masjid lainnya, yakni kami di sini buka sesuai jam kerja. Khusus pada hari Sabtu dan Minggu Masjid Lautze tutup. Tapi di saat hari khusus seperti bulan Ramadhan, masjid ini akan dibuka tanpa batas waktu,” kata Yusman Iriansyah, salah seorang pengurus masjid Lautze saat disambangi di ruang kerjanya, Sabtu (14/11).

Selama bulan Ramadhan, kata Yusman, Masjid Lautze digunakan sebagai tempat ibadah oleh warga sekitar. Menariknya pada bulan tersebut, kegiatan masjid seperti buka puasa bersama dan pengajian dihadiri oleh sebagian besar warga Tionghoa yang berada di daerah Pecinan.

Kegiatan yang dilakukan diantaranya memberikan informasi tentang Agama Islam kepada warga keturunan Tionghoa, utamanya yang ingin memeluk Islam. Kemudian, mengadakan pengajian, konsultasi Islami, pengislaman, penyelenggaraan akad nikah, menyelenggarakan silaturahmi antara muallaf dengan muslim lainnya, dan beberapa kegiatan lainnya.

Yusman menjelaskan sejak tahun 1997 hingga 2009 ini tercatat sudah lebih dari 800 orang yang memeluk Agama Islam atau menjadi muallaf melalui masjid ini. Dari jumlah tersebut 90 persen adalah warga Tionghoa dan sisanya warga asing dan pribumi. “Jumlah tersebut yang terdata dari tahun 1997. Tapi jika digabungkan dengan data tahun 1994, bisa mencapai lebih dari 1.000 orang,” jelas Yusman.

Selain itu prosesi pernikahan juga bisa dilangsungkan di Masjid Lautze. Berdasarkan data yang ada, hingga tahun 2005, sudah 13 pasangan yang menikah di masjid ini. Perkembangan Masjid Lautze serta komunitas muslim Tionghoa merupakan warna unik perkembangan Islam di nusantara. Sebagian besar jamaah Masjid Lautze berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Masjid Lautze diresmikan mantan presiden BJ Habibie pada tahun 1991. Menurut sejarah, Masjid Lautze ini awalnya hanya sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan Oei Tjeng hien. Dimana yayasan ini dibangun oleh salah seorang muslim Tionghoa bernama Haji Karim Oei atau lebih dikenal dengan nama Ali karim Oei.

Haji Ali Karim Oei merupakan tokoh masyarakat Tionghoa yang prihatin dengan nasib warga keturunan yang kurang mendapatkan perhatian serta pengetahuan Islam pada saat itu.

Sumber :

http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?nNewsId=36156

14 November 2009

Sumber Gambar:

http://bandung.detik.com/images/content/2008/02/24/667/lautze.jpg



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar