Selasa, 08 Desember 2009

Masjid Biru Destinasi Paling Top Di Istanbul


Berkunjung ke Turki pastilah tak akan melewatkan Istanbul, kota yang punya sejarah panjang sebagai ibukota Kekaisaran Ottoman (Usmaniyah/1453 – 1923) dan pernah bernama Constantinopel. Berada di Istanbul pastilah kunjungan ke Masjid Biru terkenal itu masuk ke dalam agenda. Masjid yang nama resminya Masjid Sultan Ahmed itu didaulat sebagai tempat yang paling banyak dikunjungi di Istanbul, dan predikat
ini sulit dibantah.

Masjid nasional Turki ini salah satu dari sejumlah masjid di dunia yang dikenal dengan nama Masjid Biru karena dihiasi dengan lempengan keramik berwarna biru di dinding dalamnya.

Sultanahmet Camii, nama lokalnya, dibangun antara 1609 dan 1616, pada saat Ahmed I berkuasa. Seperti banyak masjid lainnya, di masjid berukuran panjang72mdanlebar64myang mampu menampung sepuluh ribu jamaah ini juga ada makam pendirinya dan madrasah.

Setelah Perdamaian Zsitvatorok yang mengakhiri perang 13 tahun Kekaisaran Ottoman dengan Hongaria, dan hasil tak memuaskan dalam perang dengan Persia, Sultan Ahmed I memutuskan membangun masjid besar di Istanbul. Inilah masjid pemerintah yang pertama dibangun dalam kurun waktu lebih dari 40 tahun. Bila para pendahu- lunya mendanai pembangunan masjid mereka dengan hasil rampasan perang, Sultan Ahmed I harus mengucurkan dana dari kas pemerintahnya, karena dia tak berhasil memenangkan satu pun perang, dan ini membuat marah para ulama.

Masjid dibangun di lokasi istana kaisar-kaisar Byzantium (Romawi Timur), berhadapan dengan Hagia Sophia (bekas gereja yang saat itu merupakan masjid paling dimuliakan di Istanbul dan kini dijadikan museum) dan Hippodrome, lapangan pacuan kuda yang dibangun ketika Istanbul masih bernama Constantinopel, ibukota Kekaisaran Bysantium. Bagian besar sisi selatan masjid berada di atas fondasi istana, ruang penyimpanan barang-barang berharga di bawah tanah, dan lorong-lorong bawah tanah istana. Beberapa bangunan yang sudah ada di atas lokasi yang diinginkan, harus dibeli dan dirubuhkan, termasuk istana Sokollu Mehmet Pasa, seorang panglima perang terkemuka Ottoman (1506-1579), dan sebagian besar struktur tribun melengkung berbentuk U dari Hippodrome.

Pembangunan masjid dimulai Agustus 1609 dengan pencangkulan pertama lahannya dilakukan langsung oleh sultan. Niat sultan memang menjadikan masjid tersebut sebagai masjid utama dalam era pemerintahannya. Ditunjuknya arsitek paling top masa itu
Sedefhar Mehmet Aga sebagai penanggung jawab pembangunannya. Pelaksanaan pembangunannya dicatat secara sangat rinci dalam buku delapan jilid yang kini disimpan di perpustakaan Istana TopkapĆ½. Peresmian masjid dilakukan pada 1617 dan sultan ikut shalat di ruangan khusus. Bangunannya belum benar-benar rampung pada tahun terakhir pemerintahan Ahmad I, dan biaya perampungannya dibayar oleh penerusnya, Mustafa I. Masjid Sultan Ahmed kemudian menjadi salah satu monument paling mengesankan di dunia. Bangunan itu salah satu elemen dari komplek yang dibangun Ahmed I untuk menyaingi kemegahan Hagia Sophia.

Disain Masjid Sultan Ahmed merupakan puncak dari perkembangan arsitektur masjid-masjid Ottoman dan gereja Byzantium selama dua abad. Masjid Sultan Ahmad menggabungkan elemen-elemen Byzantium dari Hagia Sophia didekatnya dengan arsitektur tradisional Islam dan disebut sebagai contoh terakhir dari arsitektur Ottoman klasik.

Arsiteknya menggunakan bahan bangunan semaunya, seperti batu dan marmar, membuat pasokan untuk pekerjaan penting lainnya terganggu. Untuk tata letak masjid, arsitek harus mempertimbangkan keterbatasan dari lahan yang dijadikan tapak bangunan. Bagian depannya, yang berfungsi sebagai jalan masuk, menghadap ke Hippodrome. Arsitek mendasari ren-cananya pada Masjid Sehzade (1543-1548) di Istanbul, karya berskala besar pertama yang dikerjakan arsitek legendaris Mimar Sinan, guru Mehmet Aga, dengan halaman dalam yang luas. Ruang shalatnya dipuncaki oleh sistem bertingkat kubah dan semi kubah, yang masing-masing ditopang tiga tembok melengkung setengah lingkaran. Kubah utamanya berdiameter 23,5 meter
dengan tinggi titik tengahnya 43 meter dari lantai. Kubah-kubah itu ditopang empat pilar utama seperti pada karya Sinan lainnya, Masjid Selimiye di Edirne, ibukota Kekaisaran Ottoman sebelum dipindah ke Istanbul. Jelas sekali Mehmet Aga terlalu berhati-hati dengan menerapkan tingkat pengamanan berlebihan, sehingga merusak proporsi elegan dari kubah dengan ukurannya yang menyesakkan. Dilihat dari halaman, efek eksterior keseluruhan bagi pengunjung berupa harmoni visual yang sempurna, menuntun pandangan ke puncak kubah utama di tengah.

Halaman dalamnya sama luas dengan masjidnya dan dikelilingi oleh arkade. Tempat mengambil wudhuk ada di kedua sisi luarnya. Kolam air mancur bersegi delapan di tengah halaman dalam ukurannya terkesan kecil, kontras dengan luas halamannya. Gerbang monumental tetapi kecil menuju halaman dalam secara arsitektur menonjol dari arcade. Bentuk semi kubahnya memiliki struktur stalaktit halus, dipuncaki lengkungan berhias di atas tiang tinggi. Gerbang ini menghadap ke Hippodrome dan menjadi salah satu tempat favorit pengunjung berfoto.

Seutas rantai terbentang dibagian atas pintu masuk ke halaman dalam dari arah barat. Hanya sultan yang ketika itu boleh masuk ke halaman masjid menunggang kuda. Rantai yang terbentang memaksa sultan menunduk setiap kali masuk ke masjid agar kepalanya tidak terbentur. Ini dilakukan sebagai isyarat simbolis, menunjukkan sang penguasa Kekaisaran Ottoman itu kecil di hadapan Sang Pencipta, Allah SWT.

Di dalam masjid, dinding bawahnya ditutupi dengan lebih dari 20 ribu keping keramik biru buatan tangan, dibuat di Iznik dengan lebih dari 50 macam disain tulip. Disain keramik di bagian bawah tradisional, sementara agak ke atas hiasannya lebih beragam dengan munculnya gambar bunga, buah dan pohon cemara. Harga keramik yang harus dibayar arsitek ditetapkan dengan keputusan sultan, sementara harga keramik berangsur naik sejalan dengan waktu.

Akibatnya keping-keping keramik yang dibuat belakangan kualitasnya lebih rendah. Warnanya lebih mudah pudar, merah berubah jadi coklat dan hijau menjadi biru, berbintikbintik putih, di samping permukaannya kurang mengkilap. Keramik di belakang balkon merupakan barang bekas dari harem di Istana Topkapi, yang terbakar pada tahun 1574.

Lebih dari 200 jendela kaca hias warna-warni meneruskan cahaya matahari. Dulunya, ketika malam tiba, penerangan bergantung pada lampu minyak. Letak lampunya sangat rendah, agar petugas yang menyalakannya tidak perlu memanjat.

Elemen paling penting di dalam masjid adalah mihrab, dari marmar yang dipahat halus dengan relung stalaktit dan hiasan kaligrafi di bagian atasnya. Dinding di sebelahnya dilapis kepingan keramik, tetapi banyaknya jendela di dekat situ membuat pengunjung silau sehingga keramiknya tak terlihat spektakuler. Di kanan mihrab ada mimbar, tempat khatib berdiri menyampaikan khutbah Jumat atau pada shalah Id. Disain masjid memungkinkan suara khatib terdengar jelas oleh seluruh jamaah yang memadati masjid.

Ada juga ruangan khusus untuk keluarga penguasa di sudut tenggara, yang berhubungan dengan dua kamar istirahat di lantai atas masjid. Ruangan khusus ini memiliki mihrabnya sendiri.

Kenapa Masjid Sultan Ahmed disebut sebagai objek wisata paling banyak dikunjungi di Istanbul? Pasalnya, setiap pengunjung ke Masjid Sultan Ahmed kemudian mengunjungi juga Hagia Sophia dan Istana Topkapi di dekatnya, begitu juga sebaliknya. Tour guide bernama Gones dari Dorak Travel Istanbul yang memandu rombongan dari PT Siar Tour Medan selama kunjungan 9 sampai 11 Juli lalu punya jawabannya. “Bila azan berkumandang, pengunjung yang berada di sekitar sini akan kembali ke Masjid Sultan Ahmed untuk shalat. Bisa tiga empat kali ke Masjid Sultan Ahmed, sementara ke yang lainnya cukup sekali saja,” kata pria yang mengaku sudah dua kali ke Indonesia itu, tapi cuma ke Bali.

Terbukti, sehari setelah mengunjunginya, kami juga kembali lagi ke Masjid Sultan Ahmed untuk menunaikan shalat.

Sumber :
AZWIR THAHIR
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=45475:masjid-biru-destinasi-paling-top-di-istanbul&catid=42:laporan-khusus&Itemid=65
9 Agustus 2009

Sumber Gambar:
http://www.sccs.swarthmore.edu/users/06/adem/personal/turkiye/images/blue%20mosque.jpg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar