Selasa, 08 Desember 2009

Masjid Biru Destinasi Paling Top Di Istanbul


Berkunjung ke Turki pastilah tak akan melewatkan Istanbul, kota yang punya sejarah panjang sebagai ibukota Kekaisaran Ottoman (Usmaniyah/1453 – 1923) dan pernah bernama Constantinopel. Berada di Istanbul pastilah kunjungan ke Masjid Biru terkenal itu masuk ke dalam agenda. Masjid yang nama resminya Masjid Sultan Ahmed itu didaulat sebagai tempat yang paling banyak dikunjungi di Istanbul, dan predikat
ini sulit dibantah.

Masjid nasional Turki ini salah satu dari sejumlah masjid di dunia yang dikenal dengan nama Masjid Biru karena dihiasi dengan lempengan keramik berwarna biru di dinding dalamnya.

Sultanahmet Camii, nama lokalnya, dibangun antara 1609 dan 1616, pada saat Ahmed I berkuasa. Seperti banyak masjid lainnya, di masjid berukuran panjang72mdanlebar64myang mampu menampung sepuluh ribu jamaah ini juga ada makam pendirinya dan madrasah.

Setelah Perdamaian Zsitvatorok yang mengakhiri perang 13 tahun Kekaisaran Ottoman dengan Hongaria, dan hasil tak memuaskan dalam perang dengan Persia, Sultan Ahmed I memutuskan membangun masjid besar di Istanbul. Inilah masjid pemerintah yang pertama dibangun dalam kurun waktu lebih dari 40 tahun. Bila para pendahu- lunya mendanai pembangunan masjid mereka dengan hasil rampasan perang, Sultan Ahmed I harus mengucurkan dana dari kas pemerintahnya, karena dia tak berhasil memenangkan satu pun perang, dan ini membuat marah para ulama.

Masjid dibangun di lokasi istana kaisar-kaisar Byzantium (Romawi Timur), berhadapan dengan Hagia Sophia (bekas gereja yang saat itu merupakan masjid paling dimuliakan di Istanbul dan kini dijadikan museum) dan Hippodrome, lapangan pacuan kuda yang dibangun ketika Istanbul masih bernama Constantinopel, ibukota Kekaisaran Bysantium. Bagian besar sisi selatan masjid berada di atas fondasi istana, ruang penyimpanan barang-barang berharga di bawah tanah, dan lorong-lorong bawah tanah istana. Beberapa bangunan yang sudah ada di atas lokasi yang diinginkan, harus dibeli dan dirubuhkan, termasuk istana Sokollu Mehmet Pasa, seorang panglima perang terkemuka Ottoman (1506-1579), dan sebagian besar struktur tribun melengkung berbentuk U dari Hippodrome.

Pembangunan masjid dimulai Agustus 1609 dengan pencangkulan pertama lahannya dilakukan langsung oleh sultan. Niat sultan memang menjadikan masjid tersebut sebagai masjid utama dalam era pemerintahannya. Ditunjuknya arsitek paling top masa itu
Sedefhar Mehmet Aga sebagai penanggung jawab pembangunannya. Pelaksanaan pembangunannya dicatat secara sangat rinci dalam buku delapan jilid yang kini disimpan di perpustakaan Istana Topkapý. Peresmian masjid dilakukan pada 1617 dan sultan ikut shalat di ruangan khusus. Bangunannya belum benar-benar rampung pada tahun terakhir pemerintahan Ahmad I, dan biaya perampungannya dibayar oleh penerusnya, Mustafa I. Masjid Sultan Ahmed kemudian menjadi salah satu monument paling mengesankan di dunia. Bangunan itu salah satu elemen dari komplek yang dibangun Ahmed I untuk menyaingi kemegahan Hagia Sophia.

Disain Masjid Sultan Ahmed merupakan puncak dari perkembangan arsitektur masjid-masjid Ottoman dan gereja Byzantium selama dua abad. Masjid Sultan Ahmad menggabungkan elemen-elemen Byzantium dari Hagia Sophia didekatnya dengan arsitektur tradisional Islam dan disebut sebagai contoh terakhir dari arsitektur Ottoman klasik.

Arsiteknya menggunakan bahan bangunan semaunya, seperti batu dan marmar, membuat pasokan untuk pekerjaan penting lainnya terganggu. Untuk tata letak masjid, arsitek harus mempertimbangkan keterbatasan dari lahan yang dijadikan tapak bangunan. Bagian depannya, yang berfungsi sebagai jalan masuk, menghadap ke Hippodrome. Arsitek mendasari ren-cananya pada Masjid Sehzade (1543-1548) di Istanbul, karya berskala besar pertama yang dikerjakan arsitek legendaris Mimar Sinan, guru Mehmet Aga, dengan halaman dalam yang luas. Ruang shalatnya dipuncaki oleh sistem bertingkat kubah dan semi kubah, yang masing-masing ditopang tiga tembok melengkung setengah lingkaran. Kubah utamanya berdiameter 23,5 meter
dengan tinggi titik tengahnya 43 meter dari lantai. Kubah-kubah itu ditopang empat pilar utama seperti pada karya Sinan lainnya, Masjid Selimiye di Edirne, ibukota Kekaisaran Ottoman sebelum dipindah ke Istanbul. Jelas sekali Mehmet Aga terlalu berhati-hati dengan menerapkan tingkat pengamanan berlebihan, sehingga merusak proporsi elegan dari kubah dengan ukurannya yang menyesakkan. Dilihat dari halaman, efek eksterior keseluruhan bagi pengunjung berupa harmoni visual yang sempurna, menuntun pandangan ke puncak kubah utama di tengah.

Halaman dalamnya sama luas dengan masjidnya dan dikelilingi oleh arkade. Tempat mengambil wudhuk ada di kedua sisi luarnya. Kolam air mancur bersegi delapan di tengah halaman dalam ukurannya terkesan kecil, kontras dengan luas halamannya. Gerbang monumental tetapi kecil menuju halaman dalam secara arsitektur menonjol dari arcade. Bentuk semi kubahnya memiliki struktur stalaktit halus, dipuncaki lengkungan berhias di atas tiang tinggi. Gerbang ini menghadap ke Hippodrome dan menjadi salah satu tempat favorit pengunjung berfoto.

Seutas rantai terbentang dibagian atas pintu masuk ke halaman dalam dari arah barat. Hanya sultan yang ketika itu boleh masuk ke halaman masjid menunggang kuda. Rantai yang terbentang memaksa sultan menunduk setiap kali masuk ke masjid agar kepalanya tidak terbentur. Ini dilakukan sebagai isyarat simbolis, menunjukkan sang penguasa Kekaisaran Ottoman itu kecil di hadapan Sang Pencipta, Allah SWT.

Di dalam masjid, dinding bawahnya ditutupi dengan lebih dari 20 ribu keping keramik biru buatan tangan, dibuat di Iznik dengan lebih dari 50 macam disain tulip. Disain keramik di bagian bawah tradisional, sementara agak ke atas hiasannya lebih beragam dengan munculnya gambar bunga, buah dan pohon cemara. Harga keramik yang harus dibayar arsitek ditetapkan dengan keputusan sultan, sementara harga keramik berangsur naik sejalan dengan waktu.

Akibatnya keping-keping keramik yang dibuat belakangan kualitasnya lebih rendah. Warnanya lebih mudah pudar, merah berubah jadi coklat dan hijau menjadi biru, berbintikbintik putih, di samping permukaannya kurang mengkilap. Keramik di belakang balkon merupakan barang bekas dari harem di Istana Topkapi, yang terbakar pada tahun 1574.

Lebih dari 200 jendela kaca hias warna-warni meneruskan cahaya matahari. Dulunya, ketika malam tiba, penerangan bergantung pada lampu minyak. Letak lampunya sangat rendah, agar petugas yang menyalakannya tidak perlu memanjat.

Elemen paling penting di dalam masjid adalah mihrab, dari marmar yang dipahat halus dengan relung stalaktit dan hiasan kaligrafi di bagian atasnya. Dinding di sebelahnya dilapis kepingan keramik, tetapi banyaknya jendela di dekat situ membuat pengunjung silau sehingga keramiknya tak terlihat spektakuler. Di kanan mihrab ada mimbar, tempat khatib berdiri menyampaikan khutbah Jumat atau pada shalah Id. Disain masjid memungkinkan suara khatib terdengar jelas oleh seluruh jamaah yang memadati masjid.

Ada juga ruangan khusus untuk keluarga penguasa di sudut tenggara, yang berhubungan dengan dua kamar istirahat di lantai atas masjid. Ruangan khusus ini memiliki mihrabnya sendiri.

Kenapa Masjid Sultan Ahmed disebut sebagai objek wisata paling banyak dikunjungi di Istanbul? Pasalnya, setiap pengunjung ke Masjid Sultan Ahmed kemudian mengunjungi juga Hagia Sophia dan Istana Topkapi di dekatnya, begitu juga sebaliknya. Tour guide bernama Gones dari Dorak Travel Istanbul yang memandu rombongan dari PT Siar Tour Medan selama kunjungan 9 sampai 11 Juli lalu punya jawabannya. “Bila azan berkumandang, pengunjung yang berada di sekitar sini akan kembali ke Masjid Sultan Ahmed untuk shalat. Bisa tiga empat kali ke Masjid Sultan Ahmed, sementara ke yang lainnya cukup sekali saja,” kata pria yang mengaku sudah dua kali ke Indonesia itu, tapi cuma ke Bali.

Terbukti, sehari setelah mengunjunginya, kami juga kembali lagi ke Masjid Sultan Ahmed untuk menunaikan shalat.

Sumber :
AZWIR THAHIR
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=45475:masjid-biru-destinasi-paling-top-di-istanbul&catid=42:laporan-khusus&Itemid=65
9 Agustus 2009

Sumber Gambar:
http://www.sccs.swarthmore.edu/users/06/adem/personal/turkiye/images/blue%20mosque.jpg

“Rindu Nabi” Masjid Tertua di China


Bangunan unik nan megah, tempat bernuansa spiritual. Inilah dua hal yang dirasakan setiap pengunjung masjid ”Huai-Sheng” di China. Masjid ini satu-satunya peninggalan yang mengindikasikan bahwa Islam memiliki jejaknya di negeri ini semenjak awal.

Masjid yang terletakdi kota Guangzhow, Selatan China ini, sehari-hari menampug sejumlah besar umat Islam yang menunaikan shalat wajib.

Pada hari Jum’at, jumlah kaum muslimin asli China dan Asing yang shalat jum’at terhitung dua ribu (2000) jama’ah.

Arti nama masjid Huai-Sheng ini adalah “Masjid Rindu Nabi Muhammad”. Dinamakan demikian karena para pendatang Arab muslim yang datang di China rentang waktunya masih dekat dengan masa Nabi. Boleh jadi para pendatang Arab muslim itu masuk Islam pada zaman Nabi masih hidup, untukk mengobati rasa rindu mereka terhadap Nabi, maka masjid yang mereka dirikan diberi nama demikian.

Masjid ini sebagaimana masjid-masjid di China lainnya tidak hanya dibuka pada waktu shalat dan untuk mendengarkan ceramah saja. Bahkan masjid digunakan juga untuk prosesi akad nikah, mengurus jenazah, mendamaikan orang yang berseteru, menolong orang yang membutuhkan, merencanakan lomba olah raga antar umat Islam…. beragam kegiatan ini berjalan beriring.


Peninggalan Islam China Tertua


Tercatat bahwa masjid Huai-Sheng ini merupakan masjid pusat di Guangzhow. Masjid ini merupakan bangunan nuansa klasik yang menunjukkan tampilan yang indah dan unik. Di sekitar masjid ini terdapat tempat-tempat penjualan makanan, menjual makanan “Islami” seperti sayur-mayur dan daging. Kebanyakan orang Arab yang berdomisili di China membeli daging “Halal” di tempat ini.

Nilai masjid ini nampak dari keagungan sejarahnya dan kemegahan bangunannya dengan ciri khas bangunan Arab-China; Menara bertingkat, tingginya 36 meter dari permukaan bumi… ia nampak cahaya yang membelah awan.

Dindingnya terdiri dari dua tingkatan, dalam dan luar. Menara memiliki jendela kecil, sebagai bagian dari fentilasi udara. Jika Anda naik sampai atas, Anda akan melihat kota Guangzhow seluruhnya.

Menara masjid khas Islami, meskipun usia pembangunannya telah sangat berumur, namun menara ini masih terlihat gemerlap dan megah.

Banyak sejarawan meyakini bahwa masjid ini adalah masjid tertua di China. Tercatat masjid Huai-Sheng di bangun pada masa keluarga Tsung (tahun 618-907M).

Masjid ini dibangun oleh komunitas Arab Islam yang datang di China pada tahun 627M.


Prasasti Bertuliskan Arab


Di masjid Huai-Sheng terdapat prasasti bertuliskan Arab, yang menunjukkan bahwa bangunan masjid itu didirikan oleh Sayyid Waqqash, ketika ia datang di China. Akan tetapi Waqqash yang diyakini umat Islam China ini bukanlah Sahabat Nabi yang mulya, karena dalam sejarah Arab sendiri tidak tercatat ada Sahabat Nabi yang berkunjung ke China.

China termasuk negara awal yang di datangi Islam. Lebih dari seribu tiga ratus tahun (1300) Islam tersebar di China sehingga Islam menjadi keyakinan yang menyatu dengan puluhan minoritas di China.

Tercatat lebih dari seribu tiga ratus tahun itu, umat Islam China dari berbagai komunitas telah membangun masjid besar dan kecil. Data statistik menunjukkan jumlah masjid di China sampai sekarang sebanyak tiga puluh ribu (30 000) masjid. Sebagian menunjukkan sejarahnya yang gemilang, sebagian memperlihatkan kemegahan arsiteknya.

Jumlah penduduk China adalah terbesar di dunia, ketika Islam memberi pengaruh di negeri tirai bambu ini dengan izin Allah, maka China akan menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan ke-Islamannya di dunia.

Meski saat ini sebagian besar muslim ‘taat’ adalah generasi berusia tua, kita do’akan semoga generasi mudanya segera menemukan kembali identitas ke-Islamanya. (in/ut)

Sumber :
http://www.dakwatuna.com/2008/rindu-nabi-masjid-tertua-di-china/
13 Juni 2008

Sumber:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzYU5diXg7YPqgiEeXsAKfc7jAhnO9T-m6TLhPjirAKaPAclStzbwhm8vrxhdN_ctt9hu7X9dZAodrDNXd9Jv6It8v7Zc05-Ur4l0m7UVnADvlQ_b6SbR1qaf2SKqBPIEjqlliWSxeXA/s320/masjid-china.jpg

Apa yang anda ketahui tentang Masjid al-Aqsha???



Sering kali saya melihat dalam setiap publikasi yang berkaitan dengan Masjid Al-Aqsha maupun Palestina yang tergambar adalah sebuah bangunan masjid dengan kubah berwarna emas. Yang paling saya ingat adalah dua kali saya menghadiri acara seminar maupun pembahasan berkaitan dengan dukungan terhadap Palestina, yaitu International Conference: “Freedom and Right of Return, Palestine and 60 Years of Ethnich Cleansing” dan Bedah buku Dari Gaza Ayat-ayat Allah Berbicara. Dari kedua acara tersebut lebih mengedepankan gambar-gambar masjid dengan kubah berwarna emas yang mana itu adalah masjid Qubah Al-Shakhra (dikenal juga sebagai Dome of the Rock) yang dibangun oleh Umar bin Khatab radhiullahuanhu, bukan masjid Al-Aqsha.

Menurut beberapa sumber yang saya baca hal tersebut terjadi karena taktik busuk Yahudi laknatullah yang memang dalam setiap kesempatan, sengaja atau tidak sengaja, lebih menonjolkan Masjid Qubbah al-Shakhra dan mengenyampingkan Masjid Al-Aqsha. Oleh karena itu, Masjid Qubbah al-Shakhra lebih terkenal dan lebih familiar daripada Masjid Al-Aqsha. Dan inilah maksud Yahudi, mereka bertujuan untuk menghilangkan ingatan Masjid Al-Aqsha dalam diri umat muslim.

Semoga umat islam, terutama para aktivis dakwah, tidak terjebak dalam taktik Yahudi ini sehingga tidak ikut mempopulerkan apa yang sedang diusahakan oleh Yahudi laknatullah. Dan ada baiknya kita sebagai umat islam berperan dalam memberikan informasi ini kepada saudara-saudara kita sesama muslim yang lain.

Sumber :
http://mhs.blog.ui.ac.id/muil40/2009/07/16/apa-yang-anda-ketahui-tentang-masjid-al-aqsha/
16 Juli 2009

Masjidil Haram


Masjidil Haram adalah sebuah masjid di kota Mekkah, yang ditengah-tengahnya terdapat bangunan Kakbah. Masjidil Haram adalah tempat tersuci di Bumi bagi umat Islam. Masjid ini juga merupakan tujuan utama bagi umat Islam dalam ibadah haji. Masjid ini pula merupakan kiblat Sholat umat Islam dari seluruh dunia.

Sebelum Anda pergi ada baiknya mempelajari denah Masjidil Haram agar tidak tersesat saat beribadah di Masjidil Haram.

Menjelang hari wukuf, jutaan umat muslim dari penjuru dunia memadati pelataran masjidil haram terutama saat sholat jum”at, untuk itu diperlukan kesabaran bagi calon jamaah haji.

Kepadatan di Masjidil Haram juga terjadi setelah Jamaah Haji melempar jumroh aqobah ribuan jama”ah haji akan melakukan Tawaf Ifadah di Masjidil Haram yang merupakan rukun haji terakhir

Sumber :
http://www.jurnalhaji.com/2009/05/01/masjidil-haram/
1 Mei 2009

Sumber Gambar:
http://www.tenkasi.org/images/Masjid-ul-Haram.jpg

Masjid-masjid di Bandung


Selama tinggal di bandung diriku sering menyempatkan diri untuk ziarah ke masjid-masjid yang ada di bandung,terutama ke masjid-masjid jami di sana aku sering duduk sambil menunggu waktu sholat atau terkadang ngobrol dengan sesama jamaah masjid,secara umum ku perhatikan setiap masjid memiliki keunikannya tersendiri.namun aku merasakan sekarang betapa masyarakat terutama masyarakat perkotaan sudah mulai menjadikan masjid sebagaai tempat sholat berjamaah terutama sholat dzuhur di mana mayoritas jamaahnya adalah para pekerja kantor.Alhamdulillah.

Banyak masjid di kota kembang yang pernah ku ziarahi dan aku akan memulai dengan masjid Agung Bandung,terletak di alun-alun Bandung dan sekarang telah selesai di perluas dengan menara yang tinggi mengingatkan kita kepada menara masjid nabawi,kita juga bisa naik ke atas menara untuk melihat pemandangan kota bandung dari atas.selain sholat berjamaah masjid ini juga mengadakan pengajian rutin yang di asuh oleh ulama-ulama kota bandung selain itu juga ada toko buku yang menjual buku-buku keagamaan.kalau di lihat sekilas masjid ini tidak terlihat besar,tapi kalau kita sudah masuk kedalam baru terasa kelapangan masjid.

Masjid Agung bandung selalu di padati dengan jamaah ,terutama pada bulan ramadhan, masjid Agung Bandung adalah model masjid jaman dulu,dimana setiap masjid jami akan selalu berada di alun-alun dan dekat dengan gedung pemerintahan,jamaah masjid agung bandung terdiri dari berbagai profesi tetapi kebanyakan adalah para pedagang dan pengunjung yang baru atau mau berbelanja karena di sekitar masjid agung terdapat beberapa pusat pertokoan.konon dulu sebelum di buka mall-mall yang baru,alun-alun adalah kawasan belanja paling ramai.

Masjid raya cipaganti terletak di jalan cipaganti bandung dan termasuk masjid paling tua yang ada di bandung,bagi anda yang ingin pergi ke lembang akan melewati masjid ini,sekarang masjid cipaganti tetap ramai di kunjungi oleh para jamaah selain menyelenggarakan sholat berjamaah masjid raya cipaganti juga mengadakan pendidikan setingkat taman kanak-kanak.di masjid ini juga kita bisa membeli buku-buku keagamaan,masjid ini juga selalu rutin mengadakan pegajian-pengajian umum.jadi kalau kebetulan anda berkunjung ke kota bandung,jangan lupa ziarah ke masjid raya cipaganti,lokasinya sangat dekat dengan cihampelas,tahu kan cihampelas ? tempat orang jualan jin…maksudnya celana n asesesoris lainnya,kebetulan rumah ali juga di daerah cihampelas,jadi ali tahu betul setiap akhir pekan banyak orang jakarte yang belanja jin.hehehe

Masjid walikota bandung atawa masjid Al-ukhwah,masjid ini berlokasi dekat dengan kantornya pak Dada rosada,walikota bandung yang berhasil menutup lokalisasi ‘’saritem” dua jempol deh buat pak wali,tapi tolong kupu-kupu malamnya di berdayakan pak.di kasih modal biar bisa wiraswasta.agar enggak”jualan” di jalan-jalan.oh ya masjid ini menurutku termasuk masjid yang tercakep di antara masjid -masjid di bandung.ali sempat ziarah ke sini ketika ada musabaqoh tilawatil qur’an,kebetulan masjid Al-ukhwah jadi tuan rumah cabang tahfiz 10 juz,seandainya perut kita keroncongan jangan khawatir di bawah masjid ada warung makan dan abang tukang batagor.ngomong-ngomong batagor jadi pengen pulang ke bandung.hehehe.

Masjid Salman ITB berlokasi di kampus itb dan menjadi markas para aktivis dakwah kampus,kalau mau cari masjid yang adem,masjid salman bisa jadi alternativ,selain meyelenggarakan sholat berjamaah,masjid salman juga sering mengadakan pelatihan-pelatihan perberdayaan umat dan setahuku masjid salman sudah di kelola secara profesional.karena itu alangkah indah seandainya masjid salman bisa menularkan ilmunya ke masjid-masjid lain yang ada di kota bandung secara berkesinambungan,ali juga pernah ikut pelatihan di masjid ini.sukses selalu buat masjid salman.

Masjid Darut tauhid berlokasi di pesantren darut tauhid,masjid ini juga di kenal dengan masjid seribu tangan,karena di bangun secara swadaya masyarakat.selain tempat sholat berjamaah masjid ini juga menjadi tempat pengajiannya Aa Gym setiap hari ahad dan malam jum’at.Keunikan masjid ini adalah kita tidak akan menemukan pintu,jadi konsepnya adalah terbuka sehingga tidak heran masjid ini sering di jadikan tempat iktikaf bagi mahasisiwa dan jamaah yang akan qiyamul lail alias sholat malam.

sebenarnya masih banyak masjid yang sempat ku ziarahi,tapi entarlah aku ceritakan di waktu yang lain tapi paling tidak bagi kita umat islam, masjid adalah rumah kedua,dimana kita bisa beribadah,bersaudara,dan menuntut ilmu dan jangan lupa di antara orang yang kelak beruntung di akherat adalah orang yang hatinya selalu teringat kepada masjid.

Sumber :
Mukti Ali
http://wisata.kompasiana.com/2009/11/30/masjid-masjid-di-bandung/
30 November 2009

Sumber Gambar:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7GtDiU36GZLG59AJoqv7gFhcEDjl5TJUkqFTfwNc-8ZjoJQVsfWSySq_Kuo5o3yFVqQjO2D-nH34filCSz-xx59WkdMzdWvbSbak3ZYwHq7QlryfNxfEDe972ycTWRkTBdKV8bngYaKo/s320/masjid-agung-bandung.JPG

Menuju Masjid Kubah Emas


Umumnya masyarakat mengenal masjid sebagai bangunan berkubah dan memiliki menara. Kubah masjid terbuat dari beton, marmer, atau besi baja. Jarang ada masjid yang menggunakan bahan emas sebagai kubahnya. Berdasar catatan Kompas.Com, hanya ada 7 masjid kubah emas di dunia dan salah satunya adalah masjid Dian Al Mahri di Meruyung, Kelurahan Limo, Kelurahan Cinere, Depok.

Masjid yang dibangun tahun 1999 dan dibuka untuk umum tahun 2006 ini milik pengusaha asal Serang, Banten, Dian Djurian Maimum Al-Rasyid. Istimewanya, masjid ini menggunakan kubah berlapis emas 24 karat dari Italia.mencapai lokasi ini cukup mudah. Selain dengan kendaraan pribadi, dapat digunakan angkutan umum dari terminal Depok menuju Parung. Dari sini, perjalanan bisa dilanjutkan dengan ojek menuju jalan Meruyung. Jika menggunakan kendaraan pribadi, total waktu perjalanan dari Pondok Indah, Jakarta Selatan menuju lokasi hanya sekitar 1 - 2 jam perjalanan.

Jalan menuju lokasi cukup sempit dan hanya 2 jalur. Selain itu, kondisi jalan yang penuh lubang dan berpasir kerap membuat kecelakaan terjadi di sana karena tergelincir. dengan luas bangunan 8.000 meter persegi ini berdiri di atas lahan seluas 70 hektar. Ruang utama masjid berukuran sekitar 45 x 57 meter dan mampu menampung 8.000 jemaah.

Masjid ini memiliki enam menara (minaret) berbentuk segi enam yang dibalut batu granit abu-abu dengan ornamen melingkar. Pada langit-langit masjid terdapat ornamen bergambar langit biru lengkap dengan awannya. Sedangkan, pada puncaknya terdapat kubah berlapis emas 24 karat. masuk masjid dipisahkan antara pria dan wanita, dan di depan masjid ada tulisan dilarang masuk untuk anak berumur kurang dari tujuh tahun. Selain itu untuk masuk ke dalam masjid, diwajibkan memakai pakaian yang menutup aurat, sehingga kalau berkunjung kesana khususnya kaum hawa harus mengenakan jilbab.

Di depan pintu masuk masjid terdapat dua petugas dengan pakaian hitam yang bertugas mengingatkan pengunjung untuk mengenakan jilbab. Jika pengunjung tidak membawa, mereka akan meminjamkannya. Seorang penjaga masjid Nani (37) mengatakan selain wajib menutup aurat, pengunjung juga wajib menjaga kebersihan dan ketertiban di lingkungan masjid. "Mba, kalau mau masuk masjid pakai jilbab," tegur Nani pada seorang pengunjung wanita yang akan memasuki masjid.

Masjid adalah tempat suci, kata Nani, jadi wajib menutup aurat. kaki atau sandal harus dititipkan di bagian penitipan, dan tidak boleh ditinggal diluar. Uniknya, penitipan alas kaki terletak di bawah tanah sehingga pengunjung harus menggunakan tangga untuk menempuhnya. Pada jam-jam sholat, tempat penitipan alas kaki ini menjadi penuh dan berjubel. Di siang hari, lantai halaman masjid sangat panas. Untunglah, ada hamparan karpet plastik warna hijau yang disediakan pihak pengurus untuk mengurangi panasnya lantai halaman masjid yang diinjak dengan telanjang kaki. Dilarang menginjak rumput yang ada di taman sekitar masjid.

Untuk pengunjung yang ingin berteduh dan sekedar beristirahat, di seberang masjid ada aula yang disediakan. Biasanya pengunjung sekedar duduk-duduk atau rebahan sambil menikmati keindahan masjid ini. Penjual asongan dilarang memasuki areal masjid. Bagi pengunjung yang ingin makan atau minum sambil melepas lelah, ada kafetaria di depan gedung aula. Selain itu, pengunjung juga bisa belanja oleh-oleh khas masjid Kubah Emas di samping kafetaria. Aneka sovenir, seperti gantungan kunci dan pin dijual dengan harga sekitar Rp 4.000-Rp10.000.sekitar masjid dibuat taman dengan penataan yang apik.

Setiap harinya, pada pagi dan sore petugas kebersihan membersihkan dan merawat taman tersebut. Sedangkan untuk parkir, disiapkan lahan seluas 7.000 meter persegi cukup untuk menampung sekitar 1.400 kendaraan. Selain itu, di depan masjid terdapat rumah tinggal pendiri masjid. Disamping rumah tinggal tersebut ada dapur umum yang digunakan untuk memasak menu buka bersama dan pengajian.

Sumber :
Ani
http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/02/2146355/menuju.masjid.kubah.emas

2 September 2008

Sumber Gambar:

http://farm3.static.flickr.com/2346/2042947131_16f5aff373.jpg